Ditengah-tengah hiruk pikuk kendaraan di kawasan ruko
Harapan Indah (HI) depan patung ikan arwana, saya melihat seorang Ibu sedang
membersihkan taman yang ada dipinggir jalan. Ia tidak sendiri dalam mengerjakan
tugas tersebut, ditemani empat temannya yang sama dengan pekerjaannya. Tidak
hanya kawasan itu saja yang ia kerjakan tapi ia juga mengerjakan tempat lain,
seperti di depan sekolah SMA Negeri 10 hingga kantor HDP (Hasana Damai Putra). Jika temannya tidak hadir maka ia yang akan
menggantikan pekerjaan tersebut.
Seorang wanita paruh baya dengan penutup kepala
terbuat dari bambu dengan dibalut selendang menutupi wajahnya dari terik sinar
matahari. Serta sarung tangan yang menutupi tangannya agar tidak luka saat
mencabut tanaman kering, dan karung
disebelahnya yang penuh dedaunan yang siap untuk dibuang. Ia sibuk dengan tugasnya membersihkan taman di pinggir jalan,
satu persatu mencabut pohon kering tanpa mengenal waktu. Sikapnya yang ramah
dengan seseorang yang hendak menanyakan alamat, ia tunjukkan dimana letaknya.
Wanita asli dari Babelan ini bernama Midha, Menurutnya,
ia telah bertugas membersihkan taman di
HI sejak empat tahun yang lalu. “Saya bekerja sebagai kebersihan taman dari oktober
2010, tugas saya bukan hanya membersihkan taman, saya juga menyapu setiap
paginya, ungkapnya”.
Pekerjaan yang ia lakukan dimulai pada 08.00 s.d 16.00, sedangkan hari sabtu dari 08.00 s.d 15.00. Jika pagi sudah menunjukkan sinarnya ia menyapu kawasan ruko-ruko Harapan Indah Blok EB, jika sang fajar sudah
menampakkan diri lebih tinggi ia mencabut tanaman yang mati hingga menjelang
sore.
Menurut Midha, ia bekerja sebagai petugas kebersihan
taman untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membantu suaminya yang hanya
bekerja sebagai tukang becak. Anak-anaknya sudah tidak melanjutkan sekolah
karena masalah ekonomi yang dialaminya. Kedua anak laki-lakinya bekerja di
steam mobil yang tidak jauh dari rumahnya.
Di era yang serba sulit sekarang ini, Midha tidak
memiliki pilihan pekerjaan lain. Pendidikan terakhirnya tidak sampai tamat sekolah dasar yang membuatnya sulit mencari pekerjaan. Walau
dengan penghasilan yang sangat pas-pasan hanya untuk kebutuhan hidup, ia tetap
bertahan dalam pekerjaannya. Ia sangat senang dengan pekerjaannya saat ini
karena dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga, tanpa harus menunggu penghasilan
suaminya. Pekerjaan yang dibawah naungan HDP, dengan penghasilan Rp. 35.000 setiap
dua minggu sekali hitungan masuk kerja.
Sebelum
bekerja di tempatnya sekarang ini ia sudah mencoba berbagai macam
pekerjaan untuk menyambung hidup, seperti mencuci, menggosok dan menjual sabun cair
pencuci piring keliling. Ia bekerja keras dengan berbagai macam pekerjaan tetap
tidak bisa menutupi kebutuhannya sehari-hari.
Seorang
teman mengajaknya untuk melamar sebagai pekerja harian lepas yang sekarang
menjadi pekerjaan tetapnya. Ia melamar ke kantor HDP dengan membawa KTP (Kartu
Tanda Penduduk) saja dan diterima bekerja.
Ia sempat berpisah selama sembilan bulan dengan
suaminya karena masalah ekonomi. Suaminya tidak ada keterbukaan saat menghasilkan
uang dari narik becak. Penghasilan dari menarik becak setiap hari kurang lebih Rp30.000 saja atau bahkan tidak sama sekali
sedangkan kebutuhan rumah tangga, biaya kontrakan dan biaya sekolah harus
dibayar. Adu mulut selalu terjadi setiap hari hingga Midha memutuskan untuk meninggalkan kontrakan suaminya, dan pergi kerumah ibunya dan saat itulah anak-anaknya putus sekolah.
Seorang guru yang mengajar anak-anaknya ingin sekali
membantunya dalam hal pembiayaan sekolah, tapi anak-anaknya tidak mau lagi
sekolah. “Percuma saja mba, karena kalau ada yang mau bantu juga anaknya gak
mau, ya sudah dibiarin aja dari pada dipaksa dia malah bolos, kabur-kaburan gak
tau kemana," jelasnya.
Setelah mendapatkan pekerjaan ia mencoba untuk kembali
bersama suaminya.
Harapan Midha saat ini, dapat melunasi semua hutang
yang ada selama masa sulit yang ia jalani. Ia juga menginginkan ijazah anaknya
dapat ditebus yang hingga saat ini belum diambil karena belum bayar sebesar
Rp.1.000.000.
Komentar
Posting Komentar