Langsung ke konten utama

Perbedaan Konten Media Cetak

 Media Cetak


Media Harian Nasional
Kompas (Pita)
Media Harian Kota Besar
Warta Kota (Eva)
Media Harian Pinggiran
Reaksi Bekasi (Sabrina)

1.       Slogan “Amanat Hati Nurani Rakyat”

“Menjunjung dan Menyuarakan Kebenaran”
2.       Terdiri 40 halaman
18 halaman
11 halaman
3.       Dengan harga Rp. 4.500 seluruh Indonesia
3.000 se-Jabodetabek
2.000 se-Bekasi
4.       Rublik
-   utama (Headline)
 -  Politik dan Hukum
 -  Opini
-   Internasional
 -  Pendidikan dan   Kebudayaan,
Lingkungan dan Kesehatan
-   Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
-   Umum
-   Sosok
-   Ekonomi
 -  Nusantara
-  Metropolitan
-  Olahraga, Nama dan Peristiwa,
-  Klasika (kolom khusus untuk iklan).
-          utama (Headline)
-           Nasional /Internasional
-           Metropolitan Blitz (Metropolitan Life)
-           Warta Biz (Metropolitan Buzz,Public Service, Bodetabek Region, dan Bodetabek Plus),  Seleb, Ensikla, Multi Sport, Soccer Star,dan rubrik khusus (co : Indonesia Election 2014).
-          Iklan ditempatkan secara khusus di rubrik Ensikla
-          Headline
-          Bekasi Kota dan Kabupaten
-          Reaksi Nusantara
-          Reaksi Pendidikan dan Kesehatan
-          Reaksi olahraga dan hiburan
-          Reaksi Nasional
-          Reaksi Ibu Kota
-          Reaksi politik
-          Reaksi Ragam
-          Tidak ada kolom khusus untuk iklan, iklan diletakkan di halaman belakang dan tidak full
5.       Gramedia Grup (dengan mengembangkan sayap)
Tribun News
Media Grup


1.      Harian Kota Besar / Metropolitan  (Eva)

Contoh : Warta Kota
a.       Memuat sekitar 18 halaman saja.
b.      Terdiri dari rubrik utama (Headline), Nasional / Internasional, Metropolitan Blitz (Metropolitan Life), Warta Biz (Metropolitan Buzz,Public Service, Bodetabek Region, dan Bodetabek Plus),  Seleb, Ensikla, Multi Sport, Soccer Star,dan rubrik khusus (co : Indonesia Election 2014).
c.       Iklan ditempatkan secara khusus di rubrik Ensikla, sedangkan iklan di rubrik utama hanya sedikit.
d.      Pendistribusian terbatas, hanya terdapat di kota Jabodetabek.
e.      Harga jual terjangkau.


2.      Harian Koran Pinggiran (Sabrina) – Reaksi Bekasi

-         -  “Reaksi  Bekasi” dengan tulisan berwarna merah
-         -     Reaksi Bekasi memiliki slogan  “ Menjunjung  dan Menyuarakan Kebenaran”
-         -     Setiap Headline selalu menggunakan tulisan berwarna merah, berita bersambung ke halaman        berikutnya.
-          -    Reaksi Bekasi di halaman depan terdapat kolom untuk togel dengan tagline “Mbah Cotag” padahal  setiap media yang dibuat untuk memberikan informasi yang berguna bagi para pembaca bukan    mengajak pembaca ke hal yang tidak baik.
-          -   Di halaman depan terdapat tanggapan suatu masalah yang sedang hits dari Pimred Reaksi Bekasi  dengan tagline “Kena Deh” .
-          -   Setiap kolom koran terdapat enam bagian atau sekat dengan desain, bagian pertama besar dan lima  lainnya ukuran biasa.
-          -   Reaksi Bekasi memiliki sebelas halaman dengan enam lembar yang terdiri dari rublik:
1.        Bekasi Kota dan Kabupaten
2.       Reaksi Nusantara
3.       Reaksi Pendidikan dan Kesehatan
4.       Reaksi olahraga dan hiburan
5.       Reaksi Nasional
6.       Reaksi Ibu Kota
7.       Reaksi politik
8.       Reaksi Ragam
-          -  Iklan yang ada di Reaksi Bekasi terdapat di halaman tiga dan belakang.
-          -  Reaksi Bekasi mengembangkan sayapnya dengan membuat media grup yaitu Reaksi Bekasi dan Reaksi Nasional.
-         -   Redaksi yang dipasarkan hanya dipinggiran bekasi, biasaya hanya ada di terminal-terminal bekasi.
-          -  Struktur media
1.       Komisaris : Eresnawati
2.       Direktur Utama dan Dewan Redaksi : Hendri Siregar
3.       Pemimpin Umum dan Dewan Redaksi : Erickman Manurung
4.       Pemimpin Perusahaan : Parulian Hutapea
5.       Wakil Pemimpin Perusahaan : Erikson Manalu
6.       Pemimpin Redaksi dan Dewan Redaksi : Sarigokma Siregar
7.       Penasehat : Dasep IPS
8.       Redaktur Pelaksana : M Riady
9.       Redaktur : Frida Fodju


3.     Harian Nasional  (Pita Cahayati) - Kompas
Contoh : Kompas

a.       Memuat  40 halaman, terdiri dari 32 halaman utama dan 8 halaman klasika.
b.      Terdapat beberapa rubrik di dalamnya, antara lain; rubrik utama (Headline), Politik dan Hukum, Opini, Internasional, Pendidikan dan Kebudayaan, Lingkungan dan Kesehatan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi,  Umum, Sosok, Ekonomi, Nusantara, Metropolitan, Olahraga, Nama dan Peristiwa, Klasika (kolom khusus untuk iklan).
c.       Selain terdapat rubrik klasika/kolom khusus iklan, hampir disetiap halaman lainnya juga terdapat iklan, baik iklan yang berukuran besar atau kecil, berwarna atau tidak berwarna. Dengan kata lain koran Harian Nasional memuat iklan sekitar 60%.
d.      Pendistribusian menjangkau seluruh wilayah di Indonesia.
e.      Harga jual terbagi menjadi dua yaitu ; harga langganan sekitar Rp 98.000,- dan harga eceran sekitar Rp 4.500,-.
f.        Tidak hanya memuat berita yang terjadi di sekitar wilayah Jabodetabek saja, namun juga berita-berita dari seluruh wilayah di Indonesia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petani Indonesia Sudah Sepuh, Menteri Amran Gelorakan ‘Gempita

Rata-rata petani di Indonesia saat ini mulai sepuh. Usianya berkisar 40-50 tahun. Oleh sebab itu, regenerasi petani sangat penting untuk dilakukan. Kementerian Pertanian (Kementan) pun terus mendorong generasi muda untuk bertani lewat Gerakan Pemuda Tani (Gempita). “Tolong pak Kadis (Kepala Dinas), Pemerintah Daerah, Pemerintah Propinsi anak muda ini kita rangkul, negara ini lahir karena pemuda Indonesia. Mereka diajak kita bantu fasilitas alat mesin pertanian, jangan dipersulit,”kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat acara Gempita, di Desa Citaman, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Sabtu (5/8/2017). Amran menambahkan, dari data yang diterima ada sekitar 400.000 pemuda yang mendaftar menjadi pemuda tani. Dia yakin, mereka yang mendaftar akan bertahan mengingat bertani adalah kegiatan yang menguntungkan. Dia juga menyatakan, bertani adalah salah satu cara menekan pengangguran. “Mereka adalah anak-anak kita, adik-adik kita, saudara kita siapapun mereka dan dari berbag...

Musim Hujan Banjir Hati-hati Terkena Leptospirosis

MUSIM hujan, banjir, air menggenang, berhati-hatilah terkena penyakit Leptospirosis. Penyakit yang lebih terkenal dengan Kencing Tikus ini berasal dari kuman Leptospira. Asalnya, bisa dari air got, genangan air dan masuk ke dalam kulit melalui luka yang terbuka. (01/12) Dijelaskan Dokter Umum RS. Taman Harapan Baru, Kaliabang Tengah, dr. Reza Fauzi, penyakit ini tidak bisa dianggap enteng karena, dampak panjangnya bisa menyebabkan penyakit Hati, Ginjal hingga Radang Otak. “Ada juga yang menyebutkan demam lumpur yaitu kaki terkena air got dimana tikus berada akan timbulnya penyakit tersebut,” jelasnya. Gejalanya, mirip dengan gejala penyakit Typus, mual muntah, demam, tulang nyeri dan mata berwarna kuning. Kata dr. Reza, penyakit ini sedang digembor-gemborkan Dinas Kesehatan. Salah satu pencegahannya, bersihkan rumah dari tikus, kaki jangan sampai terluka, rumah yang setelah terkena banjir bersihkan secara menyeluruh.(mg7). Dr. Reza Fauzi Sedang Menangani Pasien Di RS THB...

TUGAS INVESTIGASI (PENINGGALAN SEJARAH)

Pemkab Bekasi Nomor Duakan Peninggalan Sejarah Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai sejarah . Itulah kata-kata yang sering kali kita dengar, namun juga sering dilupakan. Mengapa demikian?? Seperti yang kita ketahui bahwa bangsa Indonesia pernah mengalami penjajahan. Mulai dari penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Belanda selama 350 tahun lamanya. Kemudian datanglah bangsa Jepang yang ingin merebut Indonesia dari tangan Belanda. Indonesia merupakan Negara yang subur dan kaya akan rempah-rempah. Itu lah sebabnya banyak Negara asing yang ingin menguasai Indonesia. Namun berkat perjuangan para pahlawan terdahulu, maka Indonesia dapat melepaskan diri dari penjajahan. Banyak pengobanan yang telah dilakukan oleh para pahlawan demi merubut kembali bumi pertiwi dari tangan musuh. Perang di mana-mana. Tak sedikit pula pejuang yang harus mati di medan perang. Gedung-gedung, jalan-jalan, dan langit pun menjadi saksi bisu perjuangan mereka. Kini setelah 69 merdeka, b...