Pemkab Bekasi Nomor Duakan Peninggalan Sejarah
Bangsa yang besar ialah
bangsa yang menghargai sejarah. Itulah
kata-kata yang sering kali kita dengar, namun juga sering dilupakan. Mengapa
demikian??
Seperti yang kita ketahui
bahwa bangsa Indonesia pernah mengalami penjajahan. Mulai dari penjajahan yang
dilakukan oleh bangsa Belanda selama 350 tahun lamanya. Kemudian datanglah bangsa
Jepang yang ingin merebut Indonesia dari tangan Belanda. Indonesia merupakan
Negara yang subur dan kaya akan rempah-rempah. Itu lah sebabnya banyak Negara
asing yang ingin menguasai Indonesia.
Namun berkat perjuangan
para pahlawan terdahulu, maka Indonesia dapat melepaskan diri dari penjajahan.
Banyak pengobanan yang telah dilakukan oleh para pahlawan demi merubut kembali
bumi pertiwi dari tangan musuh. Perang di mana-mana. Tak sedikit pula pejuang
yang harus mati di medan perang. Gedung-gedung, jalan-jalan, dan langit pun
menjadi saksi bisu perjuangan mereka.
Kini setelah 69 merdeka,
banyak dari kita yang lupa akan sejarang panjang negeri ini. Bangunan-bangunan
bersejarah berubah menjadi gedung-gedung bertingkat, mol-mol besar. Selain itu
banyak pula bangunan bersejarah yang masih ada sampai saat ini, namun tidak
lagi dirawat. Dibiarkan terbengkalai begitu saja.
Seperti halnya yang
terjadi pada Gedung Joeang. Gedung yang didirikan sejak tahun 1901 oleh
pemerintahan Belanda tersebut,pada awalnya berfungsi sebagai tempat tinggal
tuan tanah dan keluarganya. Tahun 1942 ketika Jepang masuk ke Indonesia dan
berhasil mengalahkan Belanda, maka Gedung Joeang pun diduduki oleh Jepang.
Kemudian gedung ini
difungsikan sebagai dapur umum dan gudang penyimpanan peralatan perang. Baru
lah pada tanggal 17 Agustus 1945, setelah adanya deklarasi kemerdekaan Republik
Indonesia, para pejuang Indonesia kemudian menduduki tempat tersebut.
Sejak saat itulah gedung
tersebut dijadikan basis perjuangan masyarakat Bekasi pada saat itu. Selain
itu, tempat tersebut juga dijadikan sebagai tempat untuk merawat para korban
luka peperangan.
Namun kini, kondisi Gedung
Joeang sangat memprihatinkan. Gedung yang terletak di jalan Sultan Hasanuddin
No. 5, Tambun, Bekasi tersebut tak lebih dari sarang kelelawar raksasa. Ribuan
kelelawar hidup dan bersarang di dalamnya.
Banyaknya kelelawar
tersebut mengakibatkan bau pesing yang menyengat. Bahkan bau tak sedap dapat
tercium dari jalan raya yang berada tepat di depan Gedung Juang. Tak sedikit
pengguna jalan yang menutup hidungnya ketika melintas di jalan itu.
Ketika memasuki wilayah
Gedung Juang, terdapat sebuah bangunan kecil seperti pos keamanan di sebelah
kiri pintu masuk. Bangunan itu kini dimanfaatkan sebagai sanggar kesenian asli
Bekasi, seperti silat Gado-gado Betawi, Tari Topeng, dan Musik Kontemporer.
Di depan bangunan Gedung
Juang ada empat patung yang merupakan replica para pejuang. Antara lain satu
orang Barisan Keamanan Rakyat (BKR) yang sedang memegang senjata, satu orang
pemuda laskar, seorang wanita dari Palang Merah Remaja (PMR), dan satu orang
laki-laki berpeci yang memegang golok.
Komples Gedung Juang
terbagi menjadi tiga bagian. Posisi Gedung Juang sendiri tepat berada di
tengah-tengah kompleks tersebut. Kemudian di sebelah kirinya terdapat kantor
Dinas Kebakaran. Sementara di sebelah kanannya terdapat kantor-kantor Lembaga
Swadaya Mayarakat (LSM). Diantaranya ada Pemuda Panca Marga (PPM) dan Lembaga
Veteran Republik Indonesia (LVRI). Selain itu di bagian belakang gedung
tersebut juga terdapat beberapa rumah kecil yang kini ditempati oleh pegawai
dari Dinas Kebakaran.
Jika dilihat dari kejauhan
Gedung Juang nampak menarik karena taman kecil yang ada di depannya. Taman
tersebut ditumbuhi bunga-bunga yang sedap dipandang mata. Selain itu, gedung
yang merupakan saksi sejarah perjuangan masyarakat Bekasi tersebut masih
berdiri kokoh sampai saat ini.
Halamannya pun cukup luas
dan dialasi batu kerikil. Sehingga ketika hujan turun tidak akan membuatnya
becek. Namun, halaman gedung yang cukup luas itu justru dimanfaatkan oleh
beberapa oknum sopir bus untuk memakirkan kendaraannya di sana.
Sayangnya semua
pemandangan itu seolah tak berarti ketika bau ‘pesing’ semakin menyengat saat
memasuki bangunan Gedung Juang. Bau menyengat tersebut berasal dari kotoran
kelelawar yang berada di dalam gedung. Perut pun langsung mual ketika menyium
bau tersebut. Para pengunjung yang datang ke sana terpaksa harus menutup
hidungnya rapat-rapat, jika masih ingin berkeliling gedung.
Bangunan gedung tersebut
terbagi menjadi dua lantai. Lantai bawah bagian depan dibagi menjadi beberapa
ruangan kecil, sementara bagian belakangnya dibuat seperti aula. Di lantai dua
pun sama halnya dengan lantai bawah, hanya bedanya di lantai dua terdapat
balkon yang dibuat menyerupai rumah keong.
Selain itu di sekeliling
bangunan gedung juga terdapat beranda yang dapat digunakan untuk istirahat atau
bersantai setelah berkeliling. Sayangnya tak ada apa-apa di dalam gedung
bersejarah tersebut selain kotoran kelelawar.
Gedung yang terletak di
dekat pasar Tambun tersebut kini layaknya bangunan tua biasa yang tak mempunyai
nilai sejarah. Cat di sisi-sisi temboknya mulai mengelupas. Bagian atapnya pun
mulai rusak dan bocor. Coretan tangan-tangan usil pun menghias di mana-mana.
Gedung tersebut hanya dijadikan tempat tongkrongan bagi pengamen dan anak jalanan
yang beroperasi di sekitarnya.
Hal ini seperti yang
dituturkan oleh warga. “Ya paling cuma dipakai buat nongkrong para pengamen.
Kalau malem tidurnya juga pada di situ”, ujar Hartono (nama samaran)
Selain itu, Agung Nugraha,
mahasiswa yang tinggal tak jauh dari Gedung Juang juga menyebutkan bahwa banyak
sejarah yang hilang dari gedung tersebut. “Dulu katanya banyak benda pusaka di
sana, tapi sekarang entah hilang atau dijual”, katanya.
Lalu apa yang dilakukan pemerintah Kabupaten Bekasi untuk
menyelamatkan peninggalan sejarah tersebut?
Pemerintah Daerah (Pemda)
seakan-akan tidak peduli dengan keberadaan bangunan tersebut. Hingga saat ini
gedung tersebut dibiarkan begitu saja, dan tidak dimanfaatkan sama sekali oleh
pemerintah Bekasi. Kecuali dulu pada masa pemerintahan Bupati Sa’duddin, Gedung
Juang sempat diresmikan sebagai tempat tinggal anak jalanan oleh istri sang
bupati. Namun setelah lengsernya sang bupati maka kebijakan itu pun tidak
berlaku lagi.
Bangunan itu dibiarkan
terbengkalai begitu saja. Meski pihak Pemda selalu melakukan pembersihan setiap
tahunnya, namun hingga saat ini gedung yang begitu bersejarah itu pun tak juga
dijadikan sebagai cagar budaya yang harus dijaga kelestariannya.
Seperti yang dituturkan
oleh mandor bangungan yang kami temui
saat sedang melakukan pembersihan di Gedung Juang. “Setiap dua kali dalam
setahun selalu dibersihkan dan di cat ulang”, ungkap mandor yang tidak mau
menyebutkan namanya tersebut.
Pihak Pemda juga tidak
memberikan upah kepada petugas keamanan Gedung Juang. “Dari dulu saya tidak
pernah dapat bayaran dari pemerintah. Makanya saya minta uang rokok dari
sopir-sopir yang parker di sini. Ya sekedar buat beli rokok lah”, ungkap Yandi.
Hal ini tentu sangat
berbeda jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Bangunan-bangunan
bersejarah selalu dirawat dengan baik. Bahkan mereka rela mengeluarkan dana
yang cukup besar demi merawat peninggalan sejarah tersebut.
Contohnya Old Town of
Avila yang ada di Spanyol. Bangunan yang didirikan sejak tahun 1090
tersebut masih kokoh berdiri hingga sekarang. Di dalam bangunan yang berbentuk
benteng tersebut terdapat patung dan lukisan yang menarik. Sehingga para
wisatawan pun disuguhkan dengan berbagai hal, bukan sekedar bangunan tua saja.
Apa kata pihak pemerintah kabupaten Bekasi?
Menurut Nengkin, Kepala
Bidang Budaya dan Pariwisata kabupaten Bekasi, pihaknya bukannya tidak
menghargai sejarah dan tidak ingin menjadikan Gedung Juang sebagai cagar
budaya, melainkan sedang memproses legalisasi dari bangunan tersebut.
“Untuk menjadikan Gedung
Juang sebagai cagar budaya butuh SK (Surat Keputusan) dari Bapeda, dan kami
sedang memprosesnya,” jelasnya.
Selain itu untuk
menjadikan sebuah bangunan layak menjadi cagar budaya atau tidak, hanya dapat
dilakukan oleh tim ahli dari Badan Pembangunan Daerah. Sehingga kewenangan
untuk menjadikan Gedung Juang sebagai cagar budaya bukanlah kewenangan Dinas
Pariwisata.
Ketika disinggung kenapa
baru sekarang memproses legalisasinya sekarang, Nengkin berdalih bahwa dirinya
baru menjabat tahun 2013 kemarin. Selain itu, dengan dijadikannya Bekasi
sebagai tuan rumah dalam Pekan Olahraga Tingkat Provinsi, maka kini yang
menjadi prioritas utama Pemda ialah fasilitas-fasilitas olahraga.
“Kan malu kalau kita jadi
tuan rumah tapi fasilitasnya tidak memadai. Jadi sekarang fokus kita ke sana
dulu”, ujarnya.
Apa yang harus kita lalukan?
Karawang-Bekasi
karya:
Chairil Anwar
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
Seperti yang tertera dalam
puisi karya maestro Chairil Anwar di atas bahwasanya kita semua harus selalu
mengingat jasa para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raganya demi kemerdekaan negeri ini.
Salah satunya ialah dengan
cara menjaga peninggalan-peninggalan sejarah serta memelliharanya dengan baik.
Karena jika kita menjaga peninggalan tersebut itu sama artinya kita tidak
menghargai jasa para pahlawan kita. Padahal tanpa adanya pahlawan-pahlawan itu
kita tidak akan jadi seperti ini.
Komentar
Posting Komentar