Langsung ke konten utama

Sang Juara yang Terlupakan (Tati Sumirah)

Suasana pagi sungguh sangat cerah,  pada saat itu daerah kranji seperti biasa padat merayap karena ada perbaikkan jalan. Tujuan saya hari ini adalah bertemu Tati Sumirah di daerah Tebet, saya menggunakan kereta api atau yang lebih dikenal sekarang commuterline

Seletah sampai ditempat tujuan, yaitu Apotek Ratu yang tidak jauh dari St. Tebet dimana apotek tersebut adalah tempat dahulu Tati Sumirah bekerja. Info tersebut saya dapatkan dari situs blog dimana orang tersebut pernah mewawancarai beliau pada saat Tati Sumirah masih bekerja di apotek.

Saya bertanya kepada salah seorang kasir apotek Ratu, menjelaskan kedatangan saya untuk bertemu dengan Tati Sumirah, tapi sayang ia sudah tidak lagi bekerja, dari 10 tahun yang lalu. Saya mencoba meminta alamatnya, dan saya pun mengatakan kalau saya adalah saudaranya yang hendak sekali bertemu dengan Tati Sumirah, agar meyakinkan mereka untuk dapat memberikan informasi yang tepat.

Alhasil karyawan tersebut hanya menjelaskan letak kediaman Tati Sumirah yang tidak jelas. Saya mencoba dan terus mencoba untuk meminta sesuatu yang dapat saya hubungi atau menemukan rumahnya. Ia pun bertanya kepada karyawan yang lain, tapi sayang tidak ada yang tahu.  

Tanpa henti saya terus dan terus bertanya dan bertanya.
“Memang tidak ada data-data tentang karyawan gitu, mbak,?” Tanyaku. (dengan wajah yang memohon).
“Pemilik Apotek sudah beda Mbak, setiap data yang sudah puluhan tahun kita hanguskan,” Jelasnya, (sambil melihat buku telpon).
“Coba deh, hubungi tempat dia bekerja siapa tahu dia masih disana,” ungkapnya.

Setelah mendapatkan penjelasan ternyata seseorang yang menjadi tujuanku saat ini ternyata tidak ada. Saya keluar dan berbicara dengan tukang parkir, menanyakan alamat yang diberikan karyawan Apotek yang hanya memberikan penjelasan bahwa rumahnya dekat pasar Klender yang tidak jelas RT dan RW-nya.
“Alamatnya itu katanya di Waru Doyong, pak,” jelasku. (raut wajah yang sedikit muram).
“Oh, itu dekat pasar klender. Nanti neng, dari sini langsung ja naik angkot yang ke pasar klender,” jelasnya. (sambil menunjuk angkot yang lalu lalang).
  “Iya Pak terima kasih, Saya ke stasiun dulu deh,” jawabku.

Menuju stasiun dimana saya turun, sampai di stasiun saya duduk sambil menyandarkan kepada di tembok. Bingung, pusing alamat yang dituju kurang jelas RT dan RW nya. Tidak mungkin kawasan Jl.Waru Doyong saya kelilingi. Hemm..

Waktu menunjukkan pukul 13.15 dengan nomor telpon yang sudah ada ditangan mencoba menghubungi satu per satu. Dari tiga nomor telpon yang diberikan hanya satu yang dapat menerima pangilan saya untuk menanyakan apakah Tati masih bekerja atau tidak disana.

Komunikasi kami terputus karena suara bising kereta yang begitu kencang dan akhirnya pesan singkat masuk di telpon saya. Dengan pertanyaan yang singkat dan menjelaskan apa yang menjadi keinginan saya bertemu dengan Bu Tati Sumirah.

“Ada perlu apa nanya Bu Tati.” Tanyanya singkat.
“Saya ada perlu dengan Bu Tati, saya mau ngobrol tentang perjuangannya pada saat di bulu tangkis,” Jelasku.

Setelah itu menunggu lama, tapi tidak ada balasan dari pesan singkat saya tersebut. Saya melakukan pesan singkat kembali agar mereka dapat membantu saya untuk bertemu dengan Tati Sumirah.
“Bantu saya karena untuk ujian kampus,” jelasku.

Setelah itu pesan singkat masuk di handphone Saya, pesan tersebut membuat saya bahagia. Ia memberikan alamat yang sangat komplit dan ia pun menyarankan agar datang pada hari sabtu. Setelah alamat sudah dapat keresahan hati mulai pudar dan saya mencari masjid disekitar stasiun Tebet. Allah Maha Luar Biasa memberi saya petunjuk dengan niat baikku.

Sabtu, 21 Juni 2014

Siang itu, sangat panas hingga menusuk jantungku. Tapi hati tidak resah, karena alamat yang dituju sudah ada ditangan, tinggal mencari, bertanya dan sampai pada tujuanku. Saya menuju kediaman Tati Sumirah di Buara dengan kereta.  Sesampai di Buara, saya menggunakan angkutan umum menuju Mall Buaran, setelah itu saya bertanya tukang ojek dengan menunjukkan alamat yang saya pegang.

Berkeliling ternyata Waru Doyong itu ada dua bagian, ternyata alamat yang saya tuju ada disebrang jalan dan kami harus putar balik. Jl. Kp. Waru Doyong RT 010/ RW 008 No. 52 Itu ternyata jauh kebelakang, bagian depan perumahan dengan bilangan ratusan, ternyata perumahannya tidak teratur urutannya dan membuat saya pusing mencari alamat Tati Sumirah.

Akhirnya saya menemukan kediaman Tati Sumirah, saya mencoba mengetuk pintu dan memberi salam tapi tidak ada jawaban. Suasana kediaman Tati Sumirah ramai sekali hingga tidak mendengar siapa yang ada diluar, saya menunggu lama. Ada seorang anak yang asik dengan game onlinenya, saya mencoba meminta tolong padanya tapi sayang tidak ditanggapi olehnya, yang asik dengan gamenya.

Ternyata rumah yang ditempati Tati membuka warnet (warung internet) yang dimiliki adiknya, usaha tersebut sudah tiga tahun berdiri. Saya masih menunggu dan mengetuk pintu untuk beberapa kalinya. Akhirnya keponakan Tati Sumirah, keluar.
“Ada Tati Sumirah, gak,??” tanyaku.
“Ada tunggu sebentar ya, duduk saja dulu,” jawabnya dan mempersilahkan duduk.

Tati Sumirah keluar dari belakang, ia sedang melakukan pekerjaan rumah jika hari libur, seperti menyuci baju, menggosok, dan jika ada yang rusak alat rumah tangga ia memperbaikinya sendiri. Saat saya kesana, ia juga sedang malakukan perbaikan pekarangan rumah yang rusak hingga di semen sendiri.

Ia masih segar dan gemuk walaupun penyakit di dalam tubuhnya, seperti kolesterol dan diabetes ia tetap tegar. Ternyata menjadi seorang Atlet yang sudah menggantungkan raketnya selama puluhan tahun, ia tetap bermain bersama teman-teman tempat ia bekerja. 

Dimasa kejayaannya dulu, merupakan kebanggaan bagi dirinya. Ia hanya memikirkan bagaiman bisa mengolah permainan dengan baik di lapangan hingga menjatuhkan lawan-lawannya.
“Apa yang terlintas dalam pikiran Ibu, pada saat bertanding?” tanyaku.
“Yang kepikiran Ibu, hanyalah berjuang tidak ada pikiran lain karena setiap pertandingan yang menjadi penentu hanyalah tim Ibu. Jika Ibu menang kemungkinan doubelnya juga menang,” jelasnya. ( dengan wajah yang bangga).

Wanita yang sudah berusia 60-an ini, Ia hanya lulusan SMP. Ia rela meninggalkan sekolahnya demi kejuaraan PON (Pekan Olahraga Nasional) di Surabaya. Hidup adalah sebuah pilihan, ia memilih dengan yakin karena ia juga sudah tidak senang dengan rutinitas belajar.
“Sejak kapan Ibu, memilih bulu tangkis menjadi keinginan Ibu?” tanyaku.
“Ibu memilih bulu tangkis sejak masih SMP, kelas tiga mau ujian akhir bertepatan pada kejuaraan PON Surabaya. Ayah bertanya kamu mau terusin sekolah apa bulu tangkis. Ya udah saya ambil olah raga aja dan pada saat pertandingan saya menang hingga membawa saya masuk Pelatnas dan masuk tim. Disinilah memang prestasi saya”, jelasnya detail.
“Pertandingan yang sangat menyenangkan pada saat dimana, Bu,?” tanyaku.
“Semua pertandingan menyenangkan, tapi pada saat Uber Cap dan Asian Games tahun 1974 karena bisa dibilang penentuan walaupun masih ronde ke dua. Kalau Single saya menang, double diprediksi menang juga”,tegasnya.

Pada saat ia menggantungkan raket pada tahun 1981, ia sempat menjadi pelatih bulu tangkis tapi hanya bertahan satu tahun saja. Setelah itu ia berhenti dan tidak mengerjakan apa-apa hingga ada teman yang bekerja di Apotek mengajaknya untuk bekerja disana.

Selama 10 Tahun ia bekerja di Apotek setelah itu ia menganggur selama setahun. Entah harus kemana ia pergi dan mengadu. Di acara KikAndi mengantarkannya bekerja di perusahaan Oli yang dimiliki Rudi Hartono hingga sekarang, di bagian perpustakaan.

Penghasilannya yang ia dapatkan bisa mencukupi hidupnya sebulan, tunjangan yang diberikan pemerintah juga tidak sesuai dengan apa yang diiginkannya.
“Tujangan berupa apa yang diberikan pemerintah terhadap perjuangan Ibu selama, mengharumkan nama baik indonesia di kancah Internasional?”.
“Pada saat itu, Ibu dapat satu rumah. Pikiran Ibu rumah dibikinin ternyata tidak hanya berupa tanah kosong. Jadi mending dijual aja tanahnya dan membeli rumah yang Ibu tempatkan sekarang, tinggal balik nama. Ini rumah bukan punya Ibu tapi orang tua Ibu,” jelasnya sambil merapihkan rambutnya.

Jika dibandingkan dengan pemain bulu tangkis sekarang ini, jauh lebih mewah karena setiap Atlet bisa membeli mobil, rumah, dan lain-lain. Tapi sayang perjuangan mereka malah tidak sesuai dibandingkan perjuangan Atlet- Atlet yang terdahulu.

Semangat juang mereka mengibarkan sangsaka merah putih, merupakan semangat yang laur biasa karena yang dipikiran seorang Atlet mengolah permainan di lapangan dengan baik. Mereka bangga dengan nyanyian yang selalu memberinya semangat yaitu, Indonesia Raya dan dengan disaksikan Presiden.

Tidak ada terlintas dalam benaknya mendapatkan apa, dan berapa banyak uang yang akan diperoleh. Yang ada hanyalah perjuangan hingga akhir pertandingan, yang sebetulnya berjuang Atlet- Atlet yang terdahulu adalah jauh lebih berharga, semangat, suport, keyakinan menjadi tujuan utama dalam bertanding karena lapangan adalah milik Atlet, pelatih tidak berguna sama sekali jika sudah di lapangan.   

Cinta, adakah cinta yang terlintas dalam pikiran Tati Sumirah??
Cinta itu merupakan sesuatu yang sulit sekali dijelaskan dan diungkapkan dengan kata-kata. Cinta itu merupakan kekuatan yang sangat luar biasa. Tati merupakan wanita biasa, ia pernah merasakan yang namanya cinta juga. Ia sempat berpacaran, walau pun ditentang ayahnya, ia tetap menjalani hubungan dengan kekasihnya.

Saat kejayaan ada dipihaknya, kekasih yang selalu ada dalam kehidupannya, menghindar karena minder. Ditambah lagi dengan tidak sejutu ia hubungan dengan kekasihnya itu karena orang tuanya.
Usianya sekarang 60-an lebih hingga sekarang ia belum menikah. Kekasihnya yang dulu  sudah memiliki anak hingga sekarang ia masih menjalin silaturahmi. Kadang kekasihnya yang menghubungi Tati Sumirah, walau hanya menanyakan kabar dan lain-lain.
“Ibu, sudah punya anak berapa,” tanyaku (yang ada dalam benakku mungkin ada penerus selanjutnya sebagai Atlet).
“Ibu belum menikah, tapi Ibu pasrah kalau ada jodohnya ya Alhamdulillah,” jelasnya sambil mengelus dada.

Wanita yang asik memodifikasi motornya ini, merupakan wanita yang tomboi. Pada saat ia menggantungkan raket, dari pihak pemerintah bahwa setiap mantan atlet diberikan pekerjaan yang layak, seperti bekerja di Bank atau di kantor PLN tapi sayang ia tidak menggamil momentum tersebut hanya karena harus memakai rok dan akhirnya ia menolak tawaran tersebut.

Piala yang masih tersusun dengan sangat rapih dilemari ruang tamu dan asuransi yang diberikan salah satu televisi senilai 110 juta. Nilai uang yang begitu banyak ternyata hanya sebuah pajangan saja tidak ada pemberian dari televisi yang telah memberikan.

Saat ia diajak untuk hadir sebagai mantan atlet di salah satu televisi dan diberikan asuransi sebesar 110 juta, ternyata hangus begitu saja. Dari pihak televisi mengatakan akan menghubungi kembali, setelah beberapa lama, ia mencoba menghubungi stasiun televisi tersebut alhasil dari pihak sana mengatakan asuransi tersebut sudah hangus.

“Ohh, dapat asuransi besar sekali bu?”tanyaku sambil melihat penghargaan tersebut.
“Ia pada saat penghargaan sebagai atlet senior. Diajak untuk ikut dalam acara tersebut, dan mendapatkan penghargaan sebuah asuransi. Pihak sana mengatakan akan dihubungi kembali untuk mencairkan uangnya. Tapi sayang saat menghubungi pihak sana ternyata asuransi tersebut sudah hangus karena batasnya sampai setahun saja. Itu hanya nilainya saja yang besar tapi tidak menghasilkan apapun,” jelasnya sambil mengusap keningnya.

Ternyata menjadi seorang atlet tidak begitu menyenangkan, di saat masa kejayaan ia akan digadang-gadangkan tapi setelah ia tidak lagi berjaya ia hilang dari peradaban. Setelah selesai berbincang dengan Tati Sumirah, saya bergegas pulang dengan senyuman yang menyenangkan karena data sudah saya dapatkan untuk menceritakan Tati Sumirah. Walau hujan telah membasahi jalan, saya tetap menuju stasiun kereta Bauran.

Wawancara terpisah dengan seorang pria yang menyukai permainan Bulu Tangkis.

Menurut salah seorang yang juga menyukai pertandingan Bulu Tangkis, Nurhadi pratomo, 
pemerintah dapat menghargai para atlet yang sempat berjaya pada masa keemasannya. Pemerintah 
dapat memberikan tunjangan yang sesuai dan tepat sasaran.
“Sebagai seorang yang menyukai Bulu Tangkis, bagaimana menurut mas mengenai seorang atlet yang sudah menggantungkan raketnya,?” Tanya saya.
“Pengennya sih pemerintah para atlet-atletnya diperhatiin walaupun dia udah pensiun, udah gantung raket tapi tetep diperhatikan dia udah membela baik Indonesia juga. Contohnya iya kaya pemain yang sudah pensiun tolong diperhatiin jangan dibiarin kaya gini aja, nama Indonesia udah terkenal dimana-mana”. Jelasnya dengan pasti.

Menurut salah seorang penggemar bulu tangkis, Nurhadi Pratomo mengatakan bahwa pemerintah dapat lebih menghargai atlet – atlet yang sudah tidak lagi Berjaya.. Salah satunya adalah Tati Sumirah, seorang atlet bulu tangkis yang sudah puluhan tahun menggantungkan raketnya. Hingga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 
“Harapannya untuk Pemerintah Indonesia terhadap atlet-atlet kita?” Tanyaku mengakhiri.
”Harapan pemerintah itu sadar deh, contohnya pemain-pemain yang sudah pension jangan dibiarin gitu aja. Pemerintah dapat memberikan tunjanga yang sesuai dan tepat sasaran,” Jelasnya.


Mungkin tidak hanya Tati Sumirah saja yang mengalami masa suram setelah menggantungkan raketnya. Sudah banyak atlet-atlet Indonesia yang tidak jelas junjurangnya setelah tidak lagi menjadi atlet yang professional. Contohnya yang pernah dijelaskan Tati Sumirah, seperti seorang atlet lari yang sekarang menjadi penjual minuman ringan di Senayan.

Komentar

  1. Innalillahi wa innailaihi Roji'un..... Semoga Tati Sumirah mendapat tempat yang indah disisi-Nya...... Aamiin Yaa Rabb.....

    BalasHapus
  2. Tulisan yang indah, dadn sangat bermanfaat bagi penerus pahlawan bulutangkis...... Saya sarankan untuk di kirimkan ke Media Cetak........ Terimakasih.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS INVESTIGASI (PENINGGALAN SEJARAH)

Pemkab Bekasi Nomor Duakan Peninggalan Sejarah Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai sejarah . Itulah kata-kata yang sering kali kita dengar, namun juga sering dilupakan. Mengapa demikian?? Seperti yang kita ketahui bahwa bangsa Indonesia pernah mengalami penjajahan. Mulai dari penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Belanda selama 350 tahun lamanya. Kemudian datanglah bangsa Jepang yang ingin merebut Indonesia dari tangan Belanda. Indonesia merupakan Negara yang subur dan kaya akan rempah-rempah. Itu lah sebabnya banyak Negara asing yang ingin menguasai Indonesia. Namun berkat perjuangan para pahlawan terdahulu, maka Indonesia dapat melepaskan diri dari penjajahan. Banyak pengobanan yang telah dilakukan oleh para pahlawan demi merubut kembali bumi pertiwi dari tangan musuh. Perang di mana-mana. Tak sedikit pula pejuang yang harus mati di medan perang. Gedung-gedung, jalan-jalan, dan langit pun menjadi saksi bisu perjuangan mereka. Kini setelah 69 merdeka, b...

Perbedaan Konten Media Cetak

 Media Cetak Media Harian Nasional Kompas (Pita) Media Harian Kota Besar Warta Kota (Eva) Media Harian Pinggiran Reaksi Bekasi (Sabrina) 1.        Slogan “Amanat Hati Nurani Rakyat” “Menjunjung dan Menyuarakan Kebenaran” 2.        Terdiri 40 halaman 18 halaman 11 halaman 3.        Dengan harga Rp. 4.500 seluruh Indonesia 3.000 se-Jabodetabek 2.000 se-Bekasi 4.        Rublik -   utama (Headline)  -  Politik dan Hukum  -  Opini -   Internasional  -  Pendidikan dan   Kebudayaan, Lingkungan dan Kesehatan -   Ilmu Pengetahuan dan Teknologi -   Umum -   Sosok -   Ekonomi  -  Nusantara -  Metropolitan -  Olahra...

Contoh Berita Radio

Silat Bekasi Mulai Terkikis BLOK 1                                         Suasana pertunjukkan 150714 Pencak silat memang sudah tidak menjadi sorotan dikalangan remaja Bekasi sekarang ini. Namun, dengan adanya sanggar di berbagai daerah Bekasi menjadikan silat menunjukkan keberadaannya. 150714 Edy, sang pelatih silat gado-gado betawi menjelaskan, keberadaan silat sekarang ini semakin kurang diminati dikalangan remaja. Padalah sebagai anak bangsa harus dapat melestarikan kebudayaan yang kita miliki. 150714 Edy, sebagai pelatiha n ha rus dapat menjaga kebudayaansilatdenganmengadakan event   agar dapatmengajaksemua orang darikalanganremajahingga orang dewasa ikut melestarikan silat yang ada di Bekasi. 150714 (EDY – soal melestarikan keb...